12 August 2012

MUKMININ YUSUF

Penampilannya sederhana, cukup santun dalam bercakap walaupun tidak terlalu banyak bicara, tapi ternyata termasuk penggemar olahraga dengan level 'advance'. Dari badminton, futsal, tenis meja dan bersepeda, terutama sepeda gunung. Dan berawal dari 'obrolan-tidak-sengaja' bersama Yosse, Andreas, Sapto B, Bevi dan Amirul T mereka membentuk perkumpulan bersepeda yang bernama PS3 (Persatuan Sepeda Santai Saigon).

"Jadi bagi kami Ramadhan di mana saja adalah sama"

Jika anda ingin mendengar suaranya, anda perlu melakukan sedikit 'effort' dengan cara mengajaknya berbicara dulu atau mengajukan pertanyaan, tentang apapun. Tapi anda harus berhati-hati dan waspada, karena tidak mudah untuk membuat bapak 3 anak ini berhenti berbicara ketika topiknya benar-benar menarik buat dia.

Mukminin Yusuf, atau Bang Ucup (nama panggilan) tinggal di Ho Chi Minh City bersama istri dan tiga anaknya, yang dua di antaranya lahir di HCMC. Bang Ucup adalah karyawan perusahaan minyak dan gas yang berpusat di Abu Dhabi. Sudah hampir 13 tahun pekerjaan di bidang ini dia tekuni.

Dia mengaku sebagai seorang Sunda asli yang lahir dan besar di pinggiran kota Bandung (Banjaran) hingga tamat SMA. Kemudian melanjutkan kuliah dengan merantau ke kota Bandung. Di kota kembang inilah beliau bertemu dengan istrinya, yang saat itu juga sedang belajar di Bandung. Ibu Adelaide berasal dari Malang, dan dibesarkan di Batam dan Malang lalu pergi kuliah ke Bandung.

"Pada tahun 2009 eksplorasi minyak dan gas (migas) di Vietnam sedang naik daun, banyak sekali perusahan migas yang membuka kantor di HCMC, salah satunya perusahaan tempat saya bekerja saat ini menempatkan saya di Vietnam." katanya mengawali perbincangan.

"Sebelum di HCMC, kami tinggal di Singapura, sehingga pada mulanya sangat susah menerima perubahan dari kota besar ke kota yang masih dalam status berkembang seperti HCMC. Semuanya yang serba mudah di Singapura berbanding terbalik dengan di sini, tapi karena tekad dan keinginan yang kuat yang ada pada kami, akhirnya kami bisa berbaur dengan kota ini. Ironisnya, hingga saat ini sepertinya akan sulit sekali bagi kami untuk melupakan kota ini." tambahnya.

M: "Perbedaan apa yang paling besar anda rasakan ketika tinggal di Vietnam?"
MY: "Yang menjadi kendala bagi kami adalah mencari makanan yang halal karena kebanyakan orang Vietnam tidak mengerti apa itu makanan yang halal. Contohnya seringkali ketika saya mendapat undangan makan di kantor, saya menemui kesulitan untuk memilih makanan. tapi secara perlahan mereka bisa mengerti dan setiap ada jamuan makan mereka selalu menyiapkan makan halal bagi saya."


"Tapi sebenarnya hidup di Vietnam itu ternyata tidaklah sesulit yang dibayangkan, asalkan kita bisa mengerti perbedaan dan menerima perbedaan itu seperti halnya kita mengerti bahwa tiap manusia itu berbeda."

"Jadi bagi kami Ramadhan di mana saja adalah sama." tegasnya kemudian.
Pendapatnya ini memang layak dibenarkan, terbukti sudah 4 kali keluarganya melewati Ramadhan di Vietnam dan mereka merasa sama sekali tidak ada yang istimewa. Sangat jauh dengan suasana yang kita rasakan saat tinggal di Indonesia. Tidak ada kesibukan dalam menyambut dan menjalani Ramadhan seperti tradisi di Indonesia, misalnya ngabuburit, persiapan kue lebaran atau bahkan belanja baju baru menjelang Idul Fitri.

Namun dari segi ibadah, di sini tidak berbeda dengan di Indonesia. Semua masjid di HCMC penuh dengan kaum muslim yang menjalankan ibadah baik siang atau malam, sehingga saya tidak merasa sedang tinggal di negeri orang. Di masjid pun kita bisa berbaur dengan orang lain, tidak hanya orang Indonesia, berbincang kecil di sela-sela menunggu buka shaum atau shalat taraweh memberikan rasa sendiri berpuasa di negeri orang.

Bersepeda dengan tim PS3

0 Testimoni:

Testimonial

Server kami membutuhkan beberapa saat agar komentar bisa tersimpan dengan baik di halaman website ini. Silahkan klik tombol 'publish' agar komentar anda bisa ditayangkan.