27 July 2012

ENDARTO

Bagi sebagian besar warga negara Indonesia, terutama umat Islam pasti mendambakan untuk selalu bersama keluarga terutama saat menjalani ibadah puasa di bulan suci Ramadhan dan perayaan hari Lebaran. Namun tidak demikian halnya bagi Bapak Endarto. Pria yang berasal dari kota Bantul, Yogyakarta ini sudah 7 kali harus menjalani ibadah puasa dan melewati Hari Raya Lebaran di Vietnam hanya dengan beberapa rekan masyindo lainnya. Dan tentu saja juga bersama dengan jajaran staf KJRI di HCMC yang selalu mengadakan acara buka puasa bersama masyarakat di wisma KJRI.

"Di Vietnam saya menemukan sesuatu yg sangat berharga, saya menemukan Indonesia kecil di sini"
Hal itu dikarenakan istri dan anak laki-lakinya saat ini tinggal di Cibinong, tepatnya di Griya Cibinong Indah, Jawa Barat.

Terbatasnya tenaga ahli (kebanyakan dari Indonesia) yang bekerja di pabrik sepatu  Hwaseung Vina Vietnam tidak memberikan pilihan banyak bagi pak Edo dan koleganya untuk memilih jadwal liburan, terutama di saat libur Lebaran di tanah air yang selalu bergeser setiap tahun.

M: "Lalu kapan saja anda mengambil hak cuti untuk menjenguk keluarga?"
ED: "Orang Indonesia yang bekerja di pabrik sepatu tempat saya bekerja ada sekitar 13 orang dan kami saling bergantian mengambil cuti. Ketika tiba giliran saya, dan itu juga yang saya pilih yaitu saat libur anak sekolah sehingga saya bisa lebih leluasa menghabiskan waktu bersama anak dan istri saya."

Bersama istri dan anak
Pak Edo sering mengajak anak dan istrinya melakukan 'camping' atau jalan-jalan di sekitar pegunungan di Bogor untuk memperkenalkan mereka bagaimana mencintai alam. Dan itu salah satu hobinya sejak masih muda, yaitu naik gunung dan olahraga.
"Alhamdullillah mereka senang dan menikmatinya..." ujarnya

Satu hal yang sangat dijaga oleh anak kedua dari 5 bersaudara ini adalah pentingnya menjaga tali silaturahmi antar sesama yang akan sangat memberikan manfaat banyak sekali seperti diajarkan oleh ibunya.
Dari beberapa kegiatan yang ada, memang terbukti bagaimana pak Edo ini dengan sekuat tenaga bersama-sama rekannya di Dong Nai menjaga silaturahmi dengan masyindo di daerah lain. Walaupun kadang harus dijalani dengan naik bus, beliau beserta kawan-kawan tidak segan untuk mengunjungi teman-teman di HCMC di akhir pekan. Baik itu kegiatan badminton, olahraga futsal, dan kegiatan lain yang diselenggarakan oleh KJRI dan Masyindo HCMC.

M: "Bagaimana kesan anda berkenaan dengan ibadah puasa dan hari raya Lebaran bersama masyarakat Indonesia di Vietnam?"
ED: "Di Vietnam saya menemukan sesuatu yg sangat berharga, saya menemukan Indonesia kecil di sini. Tahun 2009 adalah awal mula saya bergabung dengan Masyindo HCMC, satu-satunya perhimpunan masyarakat Indonesia yang ada di Vietnam selatan sebagai koordinator area wilayah Dong Nai. Karena saya sudah biasa bergaul dengan beragam orang yang mempunyai latar belakang yang berbeda, saya tidak menemukan banyak masalah. Saya senang dengan adanya Masyindo, saya bisa mengobati rindu saya ke Indonesia, saya menemukan kebersamaan dan kehangatan keluarga disini."

Dalam satu kesempatan berlebaran di Indonesia

M: "Cerita singkat awal mula bisa bekerja di Vietnam bagaimana Pak?"
"Waktu itu bulan mei 2004, seorang teman saya bernama mas Eko Wijadmoko (red:koordinator area Danang) yang pertama kali memperkenalkan saya dengan pabrik sepatu Hwaseung Vina Vietnam.
Dengan berbekal Pendidikan Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta, jurusan desain sepatu dan pengalaman kerja di pabrik sepatu selama 9 tahun (1995 - 2004), saya akhirnya diterima bekerja hingga sekarang." terangnya.
"Sebelum itu saya bekerja di PT. Panarub Co. Ltd di Tangerang dan pindah ke PT. Asia Sport Bandung tahun 2004."

"Satu harapan saya adalah , saya bangga dengan keberadaan Masyindo Vietnam, semoga Masyindo bisa mewakili Indonesia yang sebenar-benarnya di Vietnam. Sebuah perhimpunan yang didasari rasa kebersamaan yang Bhinneka Tunggal Ika. Untuk Warga Masyindo sendiri saya berharap bisa ikut aktif pada setiap kegiatan yg diadakan dan Insya Allah akan memetik hasil yg sangat luar biasa." katanya sembari mengakhiri perbincangan kami.

Lalu siapa saja 13 orang kolega Pak Endarto yang bekerja di pabrik yang sama? Mari kita tunggu perkenalan dengan mereka satu-persatu di edisi profil Masyindo mendatang.

Duduk Nr. 2 dari kanan: Bersama staf KJRI dan masyarakat Indonesia di Dong Nai

0 Testimoni:

Testimonial

Server kami membutuhkan beberapa saat agar komentar bisa tersimpan dengan baik di halaman website ini. Silahkan klik tombol 'publish' agar komentar anda bisa ditayangkan.