07 October 2012

IDRIS, MS

Bapak Idris, MS selama ini bisa dikatakan menjadi sentral komunikasi dengan rekan-rekan masyarakat Indonesia yang bekerja di pabrik furniture bernama Standard Furniture, khususnya komunikasi melalui email di milis masyindo. Terdapat setidaknya 14 orang Indonesia yang bekerja di pabrik furniture milik Taiwan ini dan rata-rata mereka bekerja di bagian teknis dan kualitas selama kurang lebih 5 tahun.

Inisial MS pada namanya ternyata memiliki arti khusus. MS ini adalah singkatan dari Malin Sutan yaitu merupakan gelar pusaka adat dari suku Tobo di Kenagarian Padang Lawas, Koto VII, Sijunjung, Sumatera Barat. Oleh karena itulah Bapak Idris juga biasa dipanggil dengan nama Alin. Teman-teman sebaya dan keluarga dekatnya juga sering memanggilnya dengan nama Alin atau Malin.

Tapi rasa rindu itu masih bisa terobati oleh kegiatan Masyindo HCMC dan KJRI karena mereka sering menyajikan menu Nusantara Indonesia

Lulusan dari Manajeman dan Informatika UPI “YPTK Padang” ini merantau ke Jakarta segera setelah tamat kuliah dan merapat ke Tangerang. Pertama kali bekerja di Lembaga Pendidikan “LPMA” sebagai trainer di bidang komputer. Setelah beberapa kali pindah perusahaan di wilayah Jabotabek, Bapak Idris bekerja di Computer First Lippo Karawaci, sebagai Personal Consultan di perusahaan Furniture sebelum kepindahannya ke Vietnam.

"Saya menikah dengan Lenny Irianny, dari namanya istri saya ini sangat gampang untuk di tebak yaitu dia kelahiran Irian Jaya, tetapi istri saya masih berdarah Minang Kabau. Ooo Ya, saya bertemu dengan istri saya di Tangerang dan saat itu dia adalah seorang perawat di sebuah rumat sakit di Tangerang. Dari pernikahan kami mempunyai 2 orang anak, semuanya perempuan. Kami tinggal di Legok, Tangerang.
Saya suka tinggal di Vietnam karena teman-teman di perusahaan tempat saya bekerja cukup banyak, jadi untuk sehari-hari kita masih bisa berbicara dengan bahasa Indonesia dan selepas bekerja juga masih bisa bercanda dan bermain ala Indonesia. Dan sesekali kita juga masak bersama. Dan yang paling penting adalah karena teman-teman masyindo di Vietnam sangat bagus rasa kekeluargaannya tanpa membedakan status sosial masing-masing." jelasnya.

"Di awal pertama saya baru tinggal di sini, saya mengalami kecelakaan motor di jalan raya berdua dengan teman saya, dan teman saya itu meninggal yaitu pada tahun 2007. Waktu itu menjadi saat yang sangat sulit buat saya terutama untuk komunikasi dengan orang Vietnam, tentunya anda bisa membayangkannya.
Untuk makan sangat berbeda sekali terutama karena saya berasal dari Padang “Minang Kabau” dan tidak ada sama sekali restoran atau rumah makan di sini yang menyediakan masakan Padang seperti rendang, kalio ayam, rendang belut, gulai kepala ikan kakap dan sambal lado hijau dengan pucuk daun singkong, hahahahaha...." kelakarnya.

"Semoga ada para pembaca yang berminat untuk membuka rumah makan Padang di Ho Chi Minh City ini. Tapi rasa rindu itu masih bisa terobati oleh kegiatan Masyindo HCMC dan KJRI karena mereka sering menyajikan menu Nusantara Indonesia."

Beserta teman-teman sekantor dari Indonesia yang bekerja di Vietnam
Pada awal tahun 2005, di tempat dia bekerja sebagai konsultan di perusahaan Furniture di Tangerang, perusahaan ini sebenarnya juga sudah membuka pabrik di Vietnam. Posisi pertamanya hanya sebagai trainer software di bidang desain grafis dan desain produk untuk pemilik perusahaan tersebut, dan kemudian dia memberi kepercayaan kepada Bapak Idris pekerjaan gambar produksi untuk perusahaan yang di Vietnam juga. Dan akhirnya pemilik perusahaan menawarinya untuk bekerja di perusahaan yang di Vietnam.

Bapak Idris bergabung di Standard Funiture, Binh Duong Province pada awal tahun 2007 di Departemen R&D (Research & Development)  dan di awalnya dia bekerja sedikit mengalami kesulitan di dalam komunikasi untuk bekerja karena atasan saya tidak bisa bahasa English hanya bisa bahasa Mandarin Taiwan dan Bahasa Vietnam. Sssstt... menurut team profile sih bukan sedikit kesulitan, tapi sulliiiittt banget..
Untuk itulah teman satu perusahaan saya yang sudah lebih dulu bekerja di Vietnam sering membantu saya dalam hal komunikasi bekerja dengan atasan saya, jadi tidak terasa sampai sekarang sudah 5.5 tahun saya bekerja dan tinggal di Vietnam. Dan selama itu pula keluarganya yang saat ini tinggal di Tangerang, Indonesia menjadi lebih jarang bertemu dengannya.

Dua anak perempuan yang tinggal di Tangerang
Pesan Pak Idris kepada para perantau di manapun berada yaitu menurut pepatah minang “Di mana bumi dipijak, di situ langit kita junjung”. Kita harus bisa berbaur dengan orang-orang di mana kita berada dengan menjaga jati diri kita sebagai Bangsa dan jangan sampai lupa diri tujuan kita merantau karena menurut pepatah “Sejauh-jauh terbangnya bangau pasti akan kembali ke kubangan juga”.

Bersama Masyindo HCMC, marilah kita tingkatkan rasa persatuan dan kesatuan kita beserta rasa kekeluargaan kita. Salah satu cara adalah berusaha untuk bisa menghadiri setiap ada acara perkumpulan baik yang diadakan oleh KJRI maupun organisasi Masyindo HCMC.

Istri dan putri Bapak Idris

0 Testimoni:

Testimonial

Server kami membutuhkan beberapa saat agar komentar bisa tersimpan dengan baik di halaman website ini. Silahkan klik tombol 'publish' agar komentar anda bisa ditayangkan.