16 September 2012

BUDI SOEDARPO

Walaupun telah beberapa kali bertemu dengan Pak Budi beserta istri dan keluarga di berbagai kesempatan, namun team profile Masyindo merasa masih ada yang ingin diperbincangkan lagi dengan mereka, mengenai apapun. Tinggal bersama dengan istri (Indrawati) dan dua putri (Prisci dan Patrice) usia 17 dan 14 thn, mereka tinggal di daerah District 1, Ho Chi Minh City. Jika anda memerlukan referensi tempat makan di area HCMC bisa menghubungi profil kita ini karena kegiatan mereka di masa senggang adalah bersama keluarga menikmati makanan yang ada di HCMC. Yang secara reguler dikunjungi untuk makan siang adalah restoran Bombay di Dong Du street dengan menu ayam goreng.

Di sana seringkali juga bertemu dengan masyarakat Indonesia yang berkantor di sekitar restauran tersebut. Satu lagi yang menjadi rekomendasi adalah Sushi bar, restauran khas Jepang.

Pada awal kepindahan kami di Vietnam, kangen sekali makanan dari Indonesia, seperti soto, bakso, rendang, rawon dan jajanan lainnya.

Anak-anak mereka yang sudah menginjak remaja lebih suka menambah koleksi keping DVD sebagai pengisi waktu luang. Khususnya Prisci lebih suka berolah raga, terkadang pula ditemani oleh ayahnya ke gym. Beberapa minggu yang lalu Prisci sempat berpartisipasi menjadi Paskibraka saat upacara Kemerdekaan RI ke-67 tanggal 17 Agustus 2012 yang lalu di Konsulat jendral bersama Amirul (putra bu Nadia T) dan Nadia (putri bu Ida).
Sedangkan Patrice juga ikut bermain alat musik Sasando saat acara Indonesian Day 2012.

Prisci, Amirul dan Nadia sebagai Paskibraka HUT RI ke-67

Ibu Indrawati bersama dengan teman-temannya sangat aktif dalam kegiatan ibu-ibu dari Indonesia lainnya. Beberapa nama kegiatan dan acara seperti Indonesian Day, arisan, perayaan Natal dan lainnya selalu melibatkan beliau. Seringkali bersama ibu-ibu yang lain mereka mengunjungi panti asuhan anak-anak di HCMC dan sekitarnya.

"Kami dari Jakarta sebelum kepindahan ke Vietnam pertengahan tahun 2007" katanya mengawali perbincangan.
"Kepindahan ke Vietnam diawali dengan pekerjaan di Prudential Finance pada pertengahan 2007 sebagai Head of Risk. Kemudian pertengahan tahun 2008, saya pindah ke ANZ sebagai Head of Retail Risk untuk Greater Mekong Region" tambahnya.

Kesan mereka terhadap situasi di HCMC lebih kurang sama dengan masyarakat lainnya yaitu jalanan yang tidak terlalu macet, jadi mudah berpergian dan tidak terlalu lama waktu diperlukan untuk perjalanan. Karena di negeri rantau ini jauh dari keluarga, keakraban dengan teman-teman dari Indonesia mereka rasakan sama seperti layaknya keluarga, sangat membantu membuat mereka betah di negeri orang. Selain itu biaya hidup di Vietnam relatif lebih murah dari Jakarta.

"Dukanya pada awal kepindahan kami di Vietnam, kangen sekali makanan dari Indonesia, seperti soto, bakso, rendang, rawon dan jajanan lainnya. Sekarang istri saya sudah pandai memasak makanan tersebut, jadi itu tidak lagi menjadi kendala." jelasnya kemudian.
Jarak yang jauh dari keluarga dan teman-teman juga awalnya sulit diterima, tetapi sekarang komunikasi sudah dapat memenuhi kekurangan ini dengan banyaknya layanan telepon suara dan video melalui jaringan internet yang bebas biaya.

Di waktu senggang saya suka mendengarkan musik, terkadang golf bersama rekan2 Indonesia di HCMC dan rekan2 kantor juga.

Pak Budi bersama istri dan dua puteri mereka
Ibu Indrawati (nr. 2 dari kiri) bersama dengan ibu-ibu lainnya saat mengunjungi panti asuhan

0 Testimoni:

Testimonial

Server kami membutuhkan beberapa saat agar komentar bisa tersimpan dengan baik di halaman website ini. Silahkan klik tombol 'publish' agar komentar anda bisa ditayangkan.