26 August 2012

TINI TINNEMEYER

Hampir setiap hari, ibu dari 3 anak ini pergi ke Pasar Ben Thanh untuk mencari barang-barang rumah tangga dan lainnya. Bahkan hingga ke daerah Minh Long untuk mencari barang keramik pun dia telusuri. Minh Long adalah sebuah area dengan banyak sekali industri keramik baik ekspor. Beberapa produk keramik sisa ekspor banyak dijumpai di area ini. Atau jika ada kesempatan ibu Tini bersama keluarga jalan-jalan keliling kota HCMC sekedar untuk berfoto-ria.
"Itu semua pengalaman menarik yang tidak pernah saya lupakan dan mungkin tidak bisa terulang lagi sampai saya kembali ke Tanah Air" kenangnya.

Suatu kebersamaan yang saya tidak pernah bisa melupakannya walaupun semua itu cukup repot dan melelahkan karena kita harus masak dan menyiapkannya sendiri.

Terlahir dari ayah yang berasal dari Banten (Sunda) dan ibu dari Padang dan Aceh, Bu Tini memiliki 4 kakak laki-laki dan seorang adik perempuan. Berbelanja memang menjadi kegemaran setiap wanita, akan tetapi wanita yang bernama lengkap Agustini Jayati Tinnemeyer ini juga gemar berolahraga. Tenis lapangan menjadi olahraga yang paling dia gemari di tahun pertama tinggal di Vietnam. Di samping itu beliau juga menyukai olahraga tenis meja, bulutangkis, bola voli dan bowling. Karena jadwal latihan tenis lapangan adalah dari pagi hari menjelang siang, akhirnya olahraga tersebut ditinggalkannya untuk kemudian bermain badminton di malam hari. Perubahan tersebut menjadi satu hal yang cukup menyenangkan dan menguntungkan, karena bisa bertemu lebih banyak teman Indonesia. Selain daripada itu, olahraga badminton saat itu terbukti telah menjadi sarana penting untuk bersilaturahmi ke rekan masyarakat Indonesia di Cambodia.

Ibu Tini adalah salah satu personal yang memiliki jasa besar terhadap hadirnya berbagai organisasi kemasyarakatan Indonesia di Vietnam, baik organisasi olahraga, rohani maupun sosial masyarakat. Di tahun 2003, saat SEA Games XXII digelar di Vietnam, Ibu Tini bersama Bp. Eril Haesra, Bp. Rachmad Setiyono dan Bp. Anto Juma'in membentuk sebuah komunitas 'mungil' yang bertujuan untuk menyemangati para kontingen Indonesia peserta SEA Games XXII sehingga mampu mendorong atlet-atlet Indonesia untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa melalui olahraga.

Bu Tini (paling kiri) bersama kontingen SEA Games XXII

M: "Kami sering mendengar nama Ibu Tini di kalangan masyarakat Indonesia yang 'senior' bahwa Ibu Tini salah satu masyindo yang tinggal cukup lama di Vietnam. Bagaimana ceritanya, Bu?"
TT: "Pada tahun 1999, ARCO Indonesia dibeli oleh BP dan sebagian karyawannya masih tetap bekerja di perusahaan yang baru termasuk suami saya yang kemudian dipindahtugaskan ke BP Vietnam pada awal tahun 2000. Tapi berhubung saat itu saya sedang mengandung anak yang ke-3,  maka saya baru pindah ke Vietnam pada Desember 2000.
Awalnya perusahaan menempatkan suami saya untuk 5 tahun, tetapi akhirnya diperpanjang s/d akhir tahun 2008 (total tinggal di Vietnam 8 tahun)" katanya menjelaskan.

"Saat pertama kali menginjakkan kaki di Ho Chi Minh City saya cukup terkejut, karena waktu itu belum banyak mobil seperti sekarang,  hanya sepeda dan sepeda motor di jalan raya. Dan yang lebih mencengangkan lagi adalah pada waktu itu belum ada lampu lalu lintas, sehingga setiap kali kami berada di bundaran dan persimpangan jalan (terutama perempatan), kami merasa seolah-olah sedang didemo oleh puluhan sepeda dan sepeda motor. Karena mereka selalu tertumpuk di sana.
Tapi Alhamdulillah, setelah beberapa bulan kami sekeluarga sudah dapat menyesuaikan diri. Seingat saya baru setelah tahun 2003 Vietnam memiliki lampu lalu lintas beserta rambu-rambunya." tambahnya kemudian.

M: "Seluruh anggota keluarga ibu juga dibawa ke Vietnam?"
TT: "Iya, kami semua selalu tinggal bersama. Sebelum menikah, saya bekerja di ARCO Indonesia sejak tahun 1986 s/d 1998,  di sanalah saya bertemu dengan suami yang bernama Arthur Charles Tinnemeyer dan di karuniai 3 anak, dua perempuan dan satu laki-laki. Anak sulung saya bernama Farah Rizki Tinnemeyer, anak kedua Brenda Kinanti Tinnemeyer dan yang bungsu Edward Rachman Tinnemeyer.
Kebetulan 2 dari 3 anak saya memiliki hobby olahraga yang sama dengan ibunya," tambahnya sembari tersenyum.

Bu Tini bersama keluarga

Di Vietnam adalah pengalaman pertama kali bagi Ibu Tini ditempatkan di luar negeri. Tidak mengherankan bahwa situasi tersebut cukup menyulitkan karena tidak ada saudara ataupun teman, semua harus dimulai sejak awal. Sering bertandang ke kantor Konsul Jendral RI menjadi solusi yang paling efektif, karena disitulah beliau bisa bertemu dan berkenalan dengan masyarakat Indonesia lainnya. Karena jumlahnya yang belum banyak waktu itu justru membuat hubungan yang sangat dekat antar satu dan lainnya seperti layaknya keluarga.

Kedekatannya dengan pejabat Konsulat pada saat itu membuahkan sebuah ide bersama yang sangat bermanfaat hingga sekarang. Pada tahun 2002, Ibu Tini dan Ibu Gito (pejabat Konjen) membicarakan rencana untuk mengadakan pengajian ibu-ibu, mewadahi banyaknya warga muslim waktu itu. Pengajian tersebut diberi nama Nurul Hikmah, yang Alhamdulillah masih berjalan sampai sekarang. Katanya, "Semoga Allah tetap memberikan kelancaran, Kebarokahan pengajian Nurul Hikmah sampai Akhir Jaman!"

M: "Dari pengalaman anda, kesulitan apa yang sering dihadapi saat tinggal di Vietnam?"
TT: "Namanya kita tinggal di negara orang pastinya banyak di antara masyarakat Indonesia yang tidak cocok satu sama lain, tetapi dengan adanya komunikasi yang lancar semuanya kita bisa atasi dengan baik."
"Saya melihat sekarang menjadi lebih baik dengan adanya website Masyindo HCMC. Di tanah air saya sudah mencoba beberapa kali untuk meneruskan silatuhrahmi seperti yang telah terjalin di Vietnam, tetapi sampai sekarang masih belum bisa terlaksana. Mudah-mudahan ada dari beberapa rekan masyindo yang baru kembali ke tanah air bisa bekerja sama untuk mewujudkannya." tambahnya.

"Pengalaman khusus selama bulan Ramadhan di HCMC terasa sangat berbeda dengan di Jakarta yang mayoritas penduduknya beragama Islam, terutama bagi anak-anak yang walaupun harus bersekolah tetapi Alhamdulillah mereka tetap bisa menjalankan puasanya dengan baik. Pada saat itu yang berpuasa hanya sekitar 10 s/d 15 orang dari 750 murid dan 3 diantaranya adalah anak-anak saya. Setiap tahun kami selalu mengadakan buka puasa dan taraweh bersama dengan Masyindo, suatu kebersamaan yang saya tidak pernah bisa melupakannya walaupun semua itu cukup repot dan melelahkan karena kita harus masak dan menyiapkannya sendiri (tidak bisa order dari restaurant seperti di Jakarta) tetapi semua itu terbayar dengan banyaknya Masyindo yang hadir. Apalagi dengan menu favorit BASO yang selalu habis lebih dulu daripada menu yang lain."

"Sebagai seorang 'eks Masyindo' saya berharap agar Masyindo di HCMC selalu berusaha untuk selalu kompak dan selalu ada penerus untuk melanjutkan Pengajian Nurul Hikmah. Mari kita tetap menjalin tali silaturahmi dengan yang sudah kembali."

Suasana buka puasa dan taraweh bersama masyarakat Indonesia


0 Testimoni:

Testimonial

Server kami membutuhkan beberapa saat agar komentar bisa tersimpan dengan baik di halaman website ini. Silahkan klik tombol 'publish' agar komentar anda bisa ditayangkan.