08 July 2012

LUCY HANDOJO

Sesaat ketika bertemu dengan profil kita kali ini pasti tidak ada yang menyangka bahwa beliau adalah seorang ibu guru. Namun begitu bercakap-cakap sejenak, dari gaya bicara beliau langsung menunjukkan secara jelas sebuah karakter kuat dari seorang pengajar yang sudah berpengalaman.
Percakapan kami berawal dari istilah Asnawi (Asli Cina Betawi), sebagaimana beliau menyebut dirinya yang terlahir sebagai putri tunggal dari (almh) Maria Indahwati Handojo dan (alm) Mikael Iman Handojo. Kedua orang tua ibu Lucy ini berasal dari Manggar Belitung.

Masih ingat film Laskar Pelangi? itulah gambaran kampung halaman orangtua beliau.
"Aku sangat terkesan dengan persaudaraan masyindo di sini yang tak tertemboki oleh agama, ras dan suku yang terus terang amat sulit aku alami ketika aku di Jakarta"
Sebelum kami sempat bertanya, beliau sudah langsung bercerita pengalaman-pengalamannya sehingga bisa tinggal di Ho Chi Minh City ini.

Lucy Handoyo (LH): "Iya, nama lengkapku Anna Maria Cecilia Lucy Handojo, seorang Asnawi Pak, Asli Cina Betawi..." Sembari tersenyum beliau membuka perbincangan.

M: "Sudah lama tinggal di Vietnam, Bu?"

LH: "Aku mendarat di Ho Chi Minh City pada tanggal 02 Februari 2011 karena sebuah “panggilan” untuk menjadi guru, mendidik dan menjadi berkat untuk anak-anak di manapun mereka berada. Kesempatan ini Tuhan berikan melalui seorang teman yang lebih dahulu tinggal dan berkeluarga di sini". 

"Nah, inilah aku sekarang, setelah dipersiapkan selama 13 tahun pengalaman menjadi Guru Pendidikan Mental Aritmatika (sempoa ) di Jakarta, dan sekarang di Vietnam. Tanggungjawabku adalah mengembangkan talenta yang sudah Tuhan anugerahkan dengan menyediakan materi pengajaran sempoa (membuat buku), menyiapkan silabus pengajaran, memberikan training kepada guru-guru Vietnam (sekarang dalam bahasa Inggris, sedikit bahasa Vietnam,  'body language', serta 'bahasa hati'). Selain itu aku juga bertanggungjawab sebagai 'quality control' dari anak-anak yang dipercayakan orangtuanya kepada kami".

M: "Selama setahun lebih tinggal di Vietnam, pengalaman apa saja yang menarik Bu?"

LH: "Aku bersyukur untuk kehidupan yang sudah Tuhan anugerahkan. Di setiap kehidupan aku menjumpai lembah yang hijau permai, mata air yang mengalir dan padang gurun di manapun aku berada dan tinggal".

"Aku bersyukur karena di sini, aku bisa beribadah, memiliki teman-teman KELIK yang setiap kali kami berkumpul, selalu membuatku menangis terharu karena Tuhan mengijinkan kami berkumpul dalam sebuah keluarga besar lengkap dengan keponakan-keponakan yang lucu. Aku yang anak tunggal, sungguh diberkati dalam sebuah keluarga besar justru di tanah perantauan, di sini, sebuah negeri yang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya”.

Perlu diketahui KELIK adalah perkumpulan keluarga besar Katolik di Ho Chi Minh City yang setiap Jumat pagi berkumpul bersama untuk acara kerohanian.

Sambil sesekali mengambil handphone di tas, sekedar memeriksa kalau ada pesan singkat yang penting, bu Lucy kembali melanjutkan ceritanya.

"Untuk kehidupan sehari-hari dan pekerjaan, bahasa tentu menjadi kendala dan kesalahpahaman menjadi akibatnya. Tetapi aku berusaha untuk mengingatkan diriku bahwa jika yang baik (red:senang atau bahagia) bisa aku terima di sini, maka aku harus belajar untuk bersyukur untuk hal-hal yang menyedihkan, menyebalkan dan menjengkelkan".

M: "Waaahh... Kedengaranya sangat menyenangkan sekaligus banyak tantangannya. Ada pesan atau tips khusus yang ingin disampaikan kepada rekan masyindo lainnya?"

LH: "Aku sangat terkesan dengan persaudaraan masyindo di sini yang tak tertemboki oleh agama, ras dan suku yang terus terang amat sulit aku alami ketika aku di Jakarta. Semoga persaudaraan ini tetap terjalin sekalipun kita tidak bersama lagi di Vietnam. Mari belajar untuk bersyukur untuk setiap kesempatan yang Tuhan anugerahkan bagi kita di sini, untuk bekerja dan saling berbagi suka dan duka.

Di akhir perbincangan, beliau sempat menunjukkan sebuah foto bersama murid-muridnya ketika memenangkan sebuah lomba sempoa di sekolah tempat beliau mengajar.

Sungguh sebuah pengalaman yang sangat berharga, bahwa persaudaraan bisa menjadi lebih erat karena kita sama-sama memiliki rasa jauh dari tanah air dan kampung halaman.



0 Testimoni:

Testimonial

Server kami membutuhkan beberapa saat agar komentar bisa tersimpan dengan baik di halaman website ini. Silahkan klik tombol 'publish' agar komentar anda bisa ditayangkan.